Outlook

Dari Dilayani Menjadi Melayani: Kisah Aiman Ricky, Sedekah Jumat, dan Haji dengan Saldo Nol

Dari Dilayani Menjadi Melayani: Kisah Aiman Ricky, Sedekah Jumat, dan Haji dengan Saldo Nol

Ada satu jenis kisah yang mudah menarik perhatian di Indonesia: seseorang berangkat haji ketika kondisi finansialnya sedang tidak memungkinkan. Uang terbatas, bahkan saldo rekening disebut kosong. Lalu datang kesempatan yang tidak terduga hingga keberangkatan ke Tanah Suci akhirnya terwujud. Video podcast Media Asphirasi bersama Aiman Ricky, Keajaiban Sedekah Jumat! Kisah Aiman Ricky Berangkat Haji Furoda di Saat Saldo Kosong, masuk ke dalam kategori itu.

Tapi kalau kita berhenti di judulnya saja, kita justru kehilangan bagian yang lebih penting.

Kisah tersebut tidak semata-mata berbicara tentang “gratis ke Tanah Suci”. Bukan pula sekadar cerita tentang seorang artis yang tiba-tiba religius. Ada pergeseran posisi yang lebih menarik untuk diperhatikan: dari orang yang terbiasa dilayani menjadi orang yang memilih untuk melayani.

Saldo Nol Bukan Satu-satunya Cerita

Aiman Ricky, yang dikenal sebagai aktor dan presenter, menunaikan haji furoda pada 2022. Dalam wawancara tersebut, ia menceritakan bahwa keberangkatannya terjadi ketika kondisi keuangannya sedang sangat tertekan. Ia menggunakan istilah “R0” untuk menggambarkan saldo yang kosong.

Pasca-pandemi, usaha berjualan melalui TikTok Live sempat berjalan di tempat. Di tengah kondisi tersebut, ia tetap menyisihkan sedekah Jumat dengan membeli gorengan dari pedagang dan kemudian berkomitmen mengirimkan uang secara rutin setiap Jumat.

Tidak lama kemudian, datang tawaran pekerjaan yang tidak ia duga. Ia mendapat kontrak sebagai brand ambassador dengan nilai ratusan juta rupiah dari seseorang yang, menurut ceritanya, bahkan tidak seagama dengannya. Dari situlah kemudian terbuka kesempatan untuk menjalankan haji furoda. Ia juga mengaitkan perjalanan tersebut dengan doa nenek yang membesarkannya.

Cerita seperti ini mudah dibaca sebagai hubungan langsung antara sedekah dan datangnya rezeki. Tetapi hubungan tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari pengalaman dan keyakinan pribadi Aiman.

Sedekah tidak harus dipahami sebagai mekanisme untuk mendapatkan hasil tertentu. Dalam konteks cerita Aiman, yang menarik justru adalah bahwa aktivitas tersebut tetap ia lakukan ketika kondisi finansial sedang sulit.

Dengan demikian, kisah “saldo nol” tidak perlu menjadi semacam formula bahwa sedekah akan menghasilkan keberangkatan haji. Nilai ceritanya justru terletak pada bagaimana Aiman memaknai rangkaian pengalaman tersebut setelah kesempatan berhaji datang.

Ketika Artis Memilih Menjadi Pendamping

Dalam video tersebut, Aiman juga menceritakan adanya stigma terhadap artis yang terlibat dalam perjalanan haji. Ada anggapan bahwa keterlibatan tersebut mungkin berkaitan dengan keinginan mendapatkan perjalanan gratis, fasilitas, atau materi konten.

Aiman memberikan penjelasan mengenai pilihannya. Menurut ceritanya, ia tidak melihat peran tersebut sekadar sebagai kesempatan untuk kembali berhaji dengan fasilitas, tetapi sebagai kesempatan berada di Tanah Suci dalam posisi yang berbeda: melayani jemaah.

Stigma tersebut tidak sepenuhnya sulit dipahami. Industri hiburan dan perjalanan haji-umrah memang dapat bersinggungan dengan endorsement, promosi, dan personal branding. Karena itu, publik juga memiliki alasan untuk melihat keterlibatan figur publik secara kritis.

Namun, pengalaman Aiman sendiri menunjukkan bahwa menjadi pendamping jemaah bukan sekadar persoalan mendapatkan kesempatan berada di Tanah Suci.

Ia menceritakan pernah dua kali gagal mendaftar sebagai petugas karena persoalan administrasi, termasuk surat rekomendasi lembaga. Setelah itu, ia mengikuti sertifikasi pembimbing dan tour leader serta menjalani persiapan yang cukup padat.

Pada 2026, ia kemudian dipercaya mendampingi sekitar 800 jemaah. Dalam pemberitaan mengenai pengalaman tersebut, Aiman menggambarkan perubahan posisinya dari seseorang yang biasanya dilayani menjadi orang yang harus melayani jemaah. Ia juga menceritakan bagaimana pengalaman itu menuntut kesabaran dan ketelitian yang berbeda dari pengalaman berhaji sebagai jemaah.

Di titik ini, gagasan “haji gratis” menjadi terlalu sederhana untuk menjelaskan keseluruhan pengalaman tersebut.

Melayani Berarti Mengubah Posisi

Perbedaan antara berhaji sebagai jemaah dan mendampingi jemaah menjadi bagian paling menarik dari cerita Aiman.

Sebagai artis, ia terbiasa memiliki kru dan orang-orang yang membantu menyiapkan berbagai kebutuhan. Ketika menjadi pendamping, situasinya berbalik. Kebutuhan orang lain menjadi bagian dari pekerjaan yang harus diperhatikan.

Ia menceritakan pengalaman menahan lapar agar jemaah didahulukan, menyerahkan tempat tidur kepada jemaah lansia yang tidak kebagian, membantu mendorong kursi roda, serta menghadapi karakter jemaah yang berbeda-beda.

Ada jemaah yang lemah, sakit, membutuhkan perhatian lebih, atau memiliki keterbatasan gerak. Ada pula yang membutuhkan safari wukuf dengan kendaraan.

Situasi seperti itu menunjukkan bahwa pelayanan jemaah tidak hanya membutuhkan pengetahuan mengenai tata cara ibadah. Ada aspek lain yang sama pentingnya: stamina, kesabaran, ketelitian, dan kemampuan menghadapi orang dengan kebutuhan yang berbeda.

Di sinilah pengalaman Aiman menjadi lebih menarik daripada sekadar cerita tentang bagaimana seseorang memperoleh kesempatan berhaji.

Peran sebagai pendamping membuat pengalaman spiritual memiliki dimensi yang berbeda. Fokusnya tidak lagi hanya pada bagaimana seseorang menjalankan ibadahnya sendiri, tetapi juga pada bagaimana ia membantu orang lain menjalankan ibadah mereka.

Aiman menyebut love language-nya sebagai acts of service, sementara tes “talent DNA” yang ia ikuti menunjukkan kecenderungan caring. Itu merupakan bagian dari cerita personalnya. Namun, terlepas dari tes atau istilah tersebut, konsep service memang terlihat dalam cara ia menggambarkan pengalaman mendampingi jemaah.

Bagi seorang pendamping, pekerjaan yang penting sering kali justru berada di luar sorotan: membantu kebutuhan jemaah, memastikan mereka mendapat perhatian, atau mengorbankan kenyamanan pribadi ketika situasi membutuhkan.

Haji sebagai Panggilan dan Pentingnya Ikhtiar

Salah satu gagasan yang muncul dalam video tersebut adalah bahwa haji merupakan panggilan, bukan semata-mata persoalan kemampuan finansial.

Ungkapan tersebut memiliki tempat tersendiri dalam cara banyak orang memaknai perjalanan menuju Tanah Suci. Namun, kisah Aiman juga menunjukkan bahwa “panggilan” tidak berarti seseorang hanya menunggu.

Ada rangkaian ikhtiar di dalam ceritanya: bersedekah, mencari rekomendasi, mengikuti sertifikasi, mengalami kegagalan, mencoba kembali, serta mempersiapkan fisik dan mental.

Karena itu, kisah tersebut lebih menarik jika dilihat sebagai pertemuan antara kesempatan dan usaha, bukan sebagai keajaiban yang menggantikan proses.

Hal ini juga membuat cerita “saldo nol berangkat haji” perlu ditempatkan dalam konteksnya. Pengalaman Aiman merupakan pengalaman personal. Tidak semua orang akan mengalami pola yang sama, dan perjalanan haji setiap orang memiliki kondisi yang berbeda.

Bagi seseorang yang harus menabung bertahun-tahun dan menunggu antrean, pengalaman tersebut tentu memiliki cerita tersendiri. Begitu pula dengan orang yang memperoleh kesempatan berhaji melalui jalur yang berbeda.

Tidak ada satu pengalaman yang perlu dijadikan ukuran untuk pengalaman lainnya.

Apa yang Menarik dari Kisah Ini?

Jika kisah Aiman tidak dilihat semata dari sisi keberangkatan haji, setidaknya ada tiga hal yang menarik untuk diperhatikan.

Pertama, konsistensi sedekah dalam kondisi sulit.

Dalam cerita Aiman, sedekah Jumat tetap dilakukan ketika kondisi finansial sedang tidak mudah. Yang menarik bukan hubungan matematis antara nominal sedekah dan rezeki yang kemudian datang, melainkan bagaimana aktivitas tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari kebiasaan.

Kedua, perubahan posisi dari dilayani menjadi melayani.

Perubahan ini mungkin menjadi bagian paling kuat dari keseluruhan cerita. Berhaji sebagai jemaah dan mendampingi ratusan jemaah merupakan dua pengalaman yang berbeda.

Dalam posisi pertama, seseorang berfokus pada perjalanan ibadahnya sendiri. Dalam posisi kedua, kebutuhan orang lain menjadi bagian dari tanggung jawabnya.

Ketiga, perubahan sikap yang muncul dari pengalaman langsung.

Setelah menjalankan tugas sebagai pendamping, Aiman mengaku menjadi lebih sabar dan telaten. Pengalaman menghadapi berbagai karakter dan kebutuhan jemaah memberinya pengalaman yang berbeda dari perjalanan haji sebelumnya.

Perubahan semacam ini menarik karena tidak berhenti pada klaim bahwa haji membuat seseorang berubah. Ada proses yang konkret di belakangnya: melayani, menghadapi kesulitan, mengurangi ego, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan orang lain.

Penutup: Keajaiban yang Berubah Menjadi Tanggung Jawab

Kisah Aiman Ricky memang memiliki semua unsur yang membuat sebuah cerita mudah menarik perhatian: saldo kosong, sedekah Jumat, tawaran pekerjaan bernilai besar, doa keluarga, dan akhirnya keberangkatan ke Tanah Suci.

Namun, bagian yang paling menarik justru muncul setelah keberangkatan itu.

Kesempatan berhaji pada 2022 membawanya ke Tanah Suci sebagai jemaah. Beberapa tahun kemudian, ia kembali dalam posisi yang berbeda, yaitu mendampingi jemaah.

Di antara dua pengalaman tersebut terdapat perubahan sederhana tetapi cukup mendasar: dari dilayani menjadi melayani.

Sedekah Jumat, tawaran pekerjaan, doa nenek, haji furoda, hingga tugas mendampingi jemaah merupakan bagian-bagian dari satu perjalanan personal yang tidak perlu diubah menjadi formula keberhasilan spiritual.

Yang tersisa adalah sebuah gagasan yang lebih sederhana.

Pergi ke Tanah Suci dapat menjadi pengalaman untuk diri sendiri. Tetapi berada di Tanah Suci untuk membantu orang lain menjalani ibadah memberikan bentuk pengalaman yang berbeda.

Pada akhirnya, kisah Aiman bukan hanya tentang bagaimana seseorang bisa berangkat haji ketika saldo rekeningnya kosong. Kisah itu juga tentang apa yang terjadi setelah seseorang sampai di sana.

Dari keinginan untuk sampai di Ka'bah, menjadi keinginan agar orang lain juga bisa sampai di Ka'bah dengan selamat.

Dan mungkin, di situlah makna “melayani” dalam perjalanan tersebut menemukan bentuknya.

Sumber: Podcast Media Asphirasi

Bagikan