Outlook

Kenapa Orang Saudi dan Eropa Bayar Orang Indonesia untuk Naik Kuda di Madinah?

Kenapa Orang Saudi dan Eropa Bayar Orang Indonesia untuk Naik Kuda di Madinah?

Benar. Di Madinah—kota yang menjadi tujuan jemaah untuk beribadah—usaha berkuda yang tumbuh justru yang tidak menjadikan sunnah berkuda sebagai bahan jualan. Muhammad Rizqi Akbar, co-founder Gallop Madinah, menolak menjual pengalaman itu atas nama agama.

Yang ia tawarkan adalah wisata: tiga jam di gurun, kuda yang jinak, dan video yang layak dibawa pulang. Sunnah berkuda, jika memang hadir dalam pengalaman itu, ia biarkan datang dengan sendirinya—bukan dijadikan kalimat penutup untuk penjualan.

Dalam perbincangganya di podcast Media Asphirasi Rizqi bercerita usaha yang awalnya cuma bantu teman, belum punya kuda, belum ambil untung, lalu dipilih jemaah Indonesia, warga Saudi, sampai rombongan Eropa dan Amerika. Bukan karena ceramah. Tapi, karena konten di TikTok dan Instagram terlihat rapi dan aman.

Gallop memilih tidak menyentuh wilayah itu. Ia hanya mengisi celah dalam jadwal umrah yang selama ini berputar di hotel, Masjid Nabawi, dan belanja. Jika AlUla memakan waktu sekitar delapan jam pulang-pergi, berkuda di Gallop hanya butuh sekitar tiga jam. Yang dibayar bukan label suci. Yang dibayar celah waktu, rasa aman, dan cerita yang bisa ditunjukkan.

Pelanggan datang duluan, harga menyusul

Permintaan pertama tidak datang dari iklan. Jemaah umrah yang sudah terbiasa berkuda di Indonesia melihat cerita orang, lalu meminta didampingi. Awalnya Gallop hanya membantu: mengantar, mendampingi, tanpa mengambil untung.

Setelah beberapa kali, biayanya mulai terlihat: sewa mobil, operasional, waktu. Baru pada titik itu mereka menetapkan tarif, merapikan fasilitas, dan menjadikannya usaha sampingan yang lebih terstruktur.

Kudanya pun menyusul permintaan. Dulu menyewa satu ekor, lalu membeli satu. Kini kuda yang mereka pegang berjumlah sekitar delapan, sebagian titipan orang lain.

Urutannya berlawanan dengan banyak rencana bisnis: pelanggan dulu, sistem kemudian, aset belakangan. Risikonya lebih kecil dibanding membeli kawanan kuda lalu baru mencari jemaah.

Mengapa orang mau membayar untuk naik kuda di kota ibadah

Jawabannya ada pada jadwal jemaah. City tour sudah biasa. AlUla memang menarik, tetapi memakan waktu sekitar delapan jam pulang-pergi. Berkuda di Gallop hanya butuh sekitar tiga jam: kurang lebih 1,5 jam di atas kuda, sisanya perjalanan singkat, foto, dan istirahat. Lintasan sekitar 10 kilometer, dengan dua kilometer pertama sebagai masa adaptasi.

Paket satu orang 1.300 riyal—sekitar Rp6 juta menurut hitungan di podcast—sudah mencakup jemputan, makan, dan videografer. Grup lebih murah. Rombongan travel bisa jauh lebih terjangkau karena bus dan jadwal sudah satu paket.

Setelah berkuda, ada camilan, kopi Arab, teh Arab, hingga opsi makan di stable atau hidangan Arab seperti madfun. Panahan juga tersedia.

Yang sesungguhnya dijual bukan sekadar “naik kuda”. Yang dijual adalah tiga jam yang muat di sela umrah, latar gurun yang tidak akan ditemukan di mall, dan video yang layak dibawa pulang.

Soal label jualan sunnah

Rizqi menolak menjual pengalaman itu atas nama sunnah. Fokusnya wisata: seru, aman, dan terasa berbeda karena lokasinya di Madinah. Sunnah berkuda, jika memang hadir, ia biarkan datang dengan sendirinya—bukan kalimat jualan.

Media sosialnya diisi video orang berkuda dengan rapi, kuda yang jinak, dan keselamatan yang terlihat. Itulah yang membuat orang Saudi dan jemaah luar negeri ikut datang.

Posisi ini penting. Jemaah umrah sensitif terhadap apa pun yang terasa menunggangi ibadah. Gallop memilih menjual pengalaman, lalu membiarkan makna agama tetap di tangan pelanggan.

Produknya sebenarnya rasa aman, bukan kecepatan kuda

Sebagian besar pelanggan adalah pemula. Ada yang baru pertama memegang tali lalu berani berlari di titik sprint. Ada pula yang tubuhnya kaku dan sesinya berhenti di jalan pelan. Coach yang mengambil keputusan, bukan ego tamu.

Aturannya sederhana: badan tegak, tumit turun, tali tidak boleh kendor atau terlalu kencang. Ada aba-aba “yalla” untuk jalan dan “bas” untuk berhenti.

Anak dari usia tujuh tahun boleh naik sendiri. Tidak semua kuda dipakai untuk wisatawan—ada yang terlalu “panas” untuk pemula. Kuda juga dibatasi, maksimal sekitar dua kali keluar sehari, lalu dirawat setelah digunakan.

Hambatan terbesarnya bukan izin atau modal, melainkan teknis di lapangan: menjaga orang dengan karakter berbeda tetap merasakan keseruan tanpa kehilangan kendali. Jika formasi belum benar, balapan tidak diizinkan.

Orang pulang dengan cerita

Ada bapak dengan pinggang sakit yang naik kuda pertama kali, lalu menangis karena bahagia setelah gallop. Ada juga yang trauma jatuh di Indonesia, lalu berani mencoba lagi di Madinah. Rizqi tidak menjual ini sebagai terapi—ia membacanya sebagai efek pengalaman yang kuat.

Sebaliknya, yang merasa sudah tahu biasanya pulang dengan badan pegal atau kuda yang menolak jalan, karena instruksi tidak masuk. Kuda malas berlari bisa karena sedang tidak mood, atau penunggangnya belum memberi kode yang benar.

Untuk anak, Rizqi melihat pelajaran lain: memimpin, bertanggung jawab, dan berani. Kuda yang bandel harus dikembalikan; anak yang tidak tegas akan ikut terseret.

Mitos yang ia luruskan di akhir episode juga menjadi bagian dari produk:

  • Naik kuda pasti berbahaya bagi pemula: mitos, asalkan dilatih.
  • Badan besar tidak bisa naik: mitos, patokan kasar sekitar sepertiga berat kuda.
  • Anak lebih cepat belajar: fakta, karena lebih berani.
  • Kuda tahu penunggangnya takut: fakta.
  • Hanya untuk laki-laki: mitos.
  • Semua kuda bisa langsung dipakai wisatawan: mitos.

Rizqi melihat permintaan tidak akan hilang selama jemaah terus datang. Ia terbuka pada orang yang ingin belajar, asalkan sebagai partner—bukan sekadar meniru.

Ketika ditanya soal membuka usaha lain, faktor pertama yang ia sebut bukan lokasi atau modal, melainkan legalitas. Usaha tanpa izin pasti didatangi. Biayanya relatif sama seperti di Indonesia; yang mahal biasanya jalur calo.

Hal ini sejalan dengan perjalanan Gallop sendiri: tumbuh dari pekerjaan yang sah, permintaan yang diuji kecil-kecilan, lalu dirapikan. Bukan dari label agama, dan bukan dari aset besar di hari pertama.

Sumber: Podcast Media Asphirasi

Bagikan