Saudi Update

Arab Saudi Cegat Drone Houthi Sebelum Masuk Wilayah Udara Makkah

Arab Saudi Cegat Drone Houthi Sebelum Masuk Wilayah Udara Makkah

Drone yang Disebut Milik Houthi Dicegat Sebelum Memasuki Wilayah Udara Makkah

Dilansir Arab News, pertahanan udara Arab Saudi menghancurkan sebuah drone yang menurut Koalisi Pemulihan Legitimasi di Yaman diluncurkan Houthi dan berusaha memasuki wilayah udara Makkah, kota suci yang setiap tahun dikunjungi jutaan jemaah Muslim. Drone tersebut dicegat sebelum memasuki wilayah udara terlarang di atas Makkah. Houthi membantah bahwa mereka menargetkan kota suci tersebut.

Drone tersebut dicegat pada pukul 18.50 waktu Arab Saudi, Selasa, 15 September 2026, di selatan Makkah. Juru bicara Koalisi Pemulihan Legitimasi di Yaman, Mayor Jenderal Turki Al-Malki, menyebut keamanan dua masjid suci sebagai "garis merah". Ia juga menyebut insiden tersebut sebagai upaya kedua yang dikaitkan dengan Houthi untuk menargetkan Makkah, setelah insiden rudal pada 2017.

Koalisi menyatakan upaya tersebut akan tetap menjadi catatan hitam dalam rekam jejak pelanggaran Houthi dan menyebutnya sebagai tindakan yang disengaja untuk membakar emosi jutaan umat Islam di dunia. Pernyataan tersebut merupakan klaim pihak koalisi. Sumber Houthi, termasuk juru bicara Hazem Al-Assad, membantah tuduhan bahwa kelompok tersebut menargetkan Makkah dan menyebutnya sebagai klaim yang tidak benar.

2017, Rudal yang Disebut Mengarah ke Makkah Juga Dicegat

Menurut komando Koalisi Arab saat itu, pada 2017 pasukan pertahanan udara Arab Saudi pernah mencegat rudal balistik yang disebut diluncurkan Houthi dan mengarah ke Makkah. Rudal tersebut dijatuhkan di kawasan Al-Wasliya, Provinsi Taif, sekitar 69 kilometer dari Makkah.

Namun, Houthi saat itu menyatakan rudal Burkan-1 tersebut menargetkan Pangkalan Udara King Fahd di Taif, bukan Makkah. Karena itu, insiden 2017 merupakan klaim target yang diperselisihkan, meski pencegatan rudal di wilayah Taif dilaporkan oleh pihak Saudi.

Serangan Houthi Melukai 13 Warga Arab Saudi

Pada Senin, 14 September, Koalisi Pemulihan Legitimasi menyatakan serangan yang dikaitkan dengan Houthi menggunakan rudal balistik dan drone melukai 13 warga sipil di kawasan Khamis Mushait, Abha, dan Taif. Para korban dilaporkan mengalami luka ringan hingga sedang. Serangan tersebut juga merusak tujuh rumah dan dua kendaraan, menurut Al-Malki.

Pada pekan sebelumnya, koalisi juga menyatakan serangan Houthi melukai 73 warga di Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran. Korban disebut termasuk perempuan dan anak-anak. Angka tersebut merupakan data yang disampaikan otoritas Saudi dan juga dilaporkan oleh Reuters dan Al Jazeera.

Serangan Drone ke East-West Pipeline Berasal dari Irak

Di luar rangkaian serangan yang dikaitkan dengan Houthi, East-West Pipeline Arab Saudi di wilayah administratif Riyadh dan Madinah juga menjadi sasaran beberapa serangan drone pada Kamis, 10 September.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan drone tersebut berasal dari wilayah Irak. Operasional pipa kemudian dihentikan sementara sebagai langkah pencegahan. Pemerintah Irak juga mengambil tindakan setelah serangan tersebut.

Karena itu, serangan terhadap East-West Pipeline tidak dapat secara langsung dimasukkan sebagai serangan Houthi. Tidak ada pengakuan Houthi dalam sumber yang diperiksa yang mengaitkan kelompok tersebut dengan serangan terhadap pipa.

Apa Artinya bagi Travel dan Jemaah Indonesia?

Sumber yang diperiksa tidak melaporkan dampak langsung terhadap penyelenggaraan umrah maupun keberangkatan jemaah Indonesia akibat insiden drone di selatan Makkah. Drone tersebut menurut keterangan Saudi berhasil dicegat sebelum memasuki wilayah udara terlarang Makkah. Saudi Arabia juga sempat mengeluarkan sejumlah peringatan keamanan di beberapa wilayah, termasuk Makkah, setelah rangkaian serangan tersebut.

Bagi penyelenggara perjalanan ibadah, perkembangan keamanan tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam mitigasi risiko, antara lain:

  • Memantau perkembangan keamanan di sekitar rute perjalanan darat maupun penerbangan menuju Makkah dan Madinah.
  • Meninjau kembali klausul force majeure dalam paket umrah dan haji terkait potensi gangguan keamanan.
  • Menjalin komunikasi aktif dengan otoritas dan mitra di Arab Saudi untuk mendapatkan informasi terkini.
  • Mengecek cakupan asuransi perjalanan jemaah terhadap risiko gangguan keamanan di kawasan tujuan.

Catatan ASPHIRASI

Insiden pencegatan drone di selatan Makkah menunjukkan adanya peningkatan perhatian terhadap keamanan di sekitar kota suci. Namun, klaim bahwa drone tersebut merupakan bagian dari upaya Houthi menargetkan Makkah berasal dari pihak Saudi dan dibantah oleh Houthi. Belum ada bukti independen yang dapat mengonfirmasi dari luar pernyataan kedua pihak mengenai asal dan tujuan drone tersebut.

Rentetan serangan lain yang dikaitkan dengan Houthi, termasuk serangan di Khamis Mushait, Abha, dan Taif, menambah risiko keamanan yang perlu dipantau oleh penyelenggara perjalanan. Sementara itu, serangan terhadap East-West Pipeline merupakan insiden terpisah yang oleh Arab Saudi disebut berasal dari drone yang diluncurkan dari Irak.

Bagi penyelenggara perjalanan umrah dan haji di Indonesia, perkembangan tersebut dapat menjadi momentum untuk meninjau kembali skema mitigasi risiko, termasuk klausul force majeure, jalur komunikasi darurat dengan mitra di Arab Saudi, dan perlindungan asuransi bagi jemaah.

Perkembangan lanjutan yang perlu dipantau adalah respons otoritas Arab Saudi dan Houthi terhadap rangkaian serangan tersebut serta apakah insiden serupa kembali terjadi menjelang musim umrah maupun haji berikutnya.

Sumber: Arab News

Bagikan