
JAKARTA — Bisnis dari ekosistem umrah tidak hanya berhenti pada biro perjalanan. Sandal khusus jemaah, perangkat zikir, teknologi virtual reality (VR) untuk manasik hingga pengalaman sirah Nabi menjadi sejumlah peluang usaha yang dikembangkan Muhammad Triangga, founder VR Journey Indonesia.
Dalam episode Dari Sandal Umrah Sampai Manasik Virtual, Ternyata Banyak Bisnis Cuan dari Umrah! di kanal YouTube Media Asphirasi, Triangga menceritakan bagaimana sejumlah gagasan bisnisnya bertemu dengan kebutuhan jemaah dan gaya hidup Muslim.
Ia menyebut benang merah berbagai usahanya sebagai lifestyle. Menurut Triangga, produk dan teknologi yang dikembangkan tidak semata ditujukan untuk kebutuhan ibadah, tetapi juga dibuat agar dapat masuk ke kehidupan sehari-hari.
“Umat Muslim juga harus punya lifestyle yang baik,” kata Triangga dalam wawancara tersebut.
Dari pendekatan itu, ia mengembangkan sejumlah usaha yang bersinggungan dengan industri Muslim dan perjalanan umrah.
VR untuk manasik hingga pengalaman sirah
Salah satu bisnis yang paling dekat dengan perjalanan umrah adalah VR Journey Indonesia.
Menurut Triangga, teknologi VR tersebut dibuat oleh Fahim, seorang pengembang asal Palestina yang tinggal di Amerika Serikat. Teknologi itu, menurut penuturannya, telah digunakan sejak sekitar 2018 dan pada akhir 2023 mulai mencari agen di Indonesia.
Triangga kemudian dipercaya menjadi agen untuk Indonesia setelah diperkenalkan kepada Fahim melalui jaringan Jakarta Sneaker Day.
Penggunaan VR tidak hanya diarahkan untuk hiburan. Triangga menyebut teknologi tersebut dapat digunakan untuk membantu jemaah mengenali lingkungan ibadah sebelum berangkat.
Dalam konteks manasik, misalnya, jemaah dapat melihat gambaran 360 derajat mengenai lingkungan sekitar Ka'bah, posisi atau jalur tertentu, hingga kondisi di Madinah.
Menurut dia, pendekatan visual tersebut dapat membantu jemaah memperoleh gambaran sebelum berada langsung di Tanah Suci.
“Bayangan visual sama bayangan kita cuma dengar doang atau foto doang kan beda,” ujarnya.
VR Journey juga dikembangkan untuk menghadirkan pengalaman terkait sirah Nabi. Triangga mengatakan teknologi tersebut ditujukan agar pengguna tidak hanya mendengar cerita dari buku atau kajian, tetapi juga memperoleh pengalaman visual.
Ia menyebut sekitar 70 unit headset telah digunakan atau ditempatkan di sejumlah lokasi. Namun, jumlah dan distribusi perangkat tersebut merupakan angka yang disampaikan Triangga dalam wawancara dan tidak diverifikasi secara independen dalam artikel ini.
Triangga juga mengatakan pengembangan teknologi harus mengikuti perubahan kondisi di Tanah Suci. Ia menyebut pembaruan dilakukan sekitar tiga bulan sekali.
Ia memiliki ambisi agar teknologi tersebut dapat digunakan lebih luas dalam manasik. Namun, rencana tersebut masih bergantung pada kerja sama dengan berbagai pihak.
Smart ring: zikir dibuat menyatu dengan lifestyle
Peluang lain yang ia lihat berada pada perangkat wearable.
Triangga memperkenalkan smart ring yang menurutnya tidak ingin tampil terlalu mencolok sebagai perangkat ibadah. Fungsi yang disebutnya antara lain pemantauan detak jantung, langkah, kualitas tidur, kiblat, pengingat azan dan aktivitas olahraga.
Perbedaannya dengan smart ring biasa, menurut Triangga, adalah tambahan fitur zikir dan pengingat salat.
Ia menyebut harga produk yang dibicarakan dalam wawancara berada di kisaran Rp699.000. Angka tersebut merupakan harga yang disebutkan Triangga dalam episode dan tidak diverifikasi secara independen dalam artikel ini.
Konsep yang ia kejar adalah membuat fungsi keagamaan menyatu dengan perangkat yang tetap terlihat seperti aksesori sehari-hari.
“Lifestyle tetap dapat, alhamdulillah ada zikirnya,” kata dia.
Sandal umrah lahir dari kebutuhan berjalan jauh
Selain teknologi, Triangga juga mengembangkan Shirata, brand alas kaki yang menurut penuturannya sejak awal diarahkan sebagai sandal umrah.
Gagasan tersebut sebenarnya sudah muncul sejak sekitar 2010–2011. Latar belakangnya adalah pengalamannya di bidang desain alas kaki dan pengamatannya terhadap kebutuhan jemaah yang harus banyak berjalan selama umrah.
Menurut Triangga, sandal untuk jemaah tidak cukup hanya nyaman. Desain juga perlu memperhatikan kebutuhan berjalan jauh dan kondisi penggunaan di Tanah Suci.
Ia menyebut beberapa karakteristik yang menjadi perhatian Shirata, antara lain:
- outsole anti-slip;
- tingkat kepadatan insole yang tidak terlalu empuk maupun terlalu keras;
- desain upper yang disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan saat umrah.
Produk tersebut baru mulai terealisasi lebih dari satu dekade setelah gagasan awal. Triangga menyebut peluang investasi baru terbuka pada 2023 melalui mitra pemilik pabrik.
Belakangan, Shirata juga mengembangkan pembahasan mengenai sandal wudu. Namun, dalam wawancara, Triangga mengatakan bagian tersebut masih dalam tahap analisis produk, harga dan pemasaran.
Dari kebutuhan jemaah menjadi peluang bisnis
Cerita Triangga menunjukkan bahwa kebutuhan jemaah dapat diterjemahkan menjadi berbagai jenis produk, dari barang fisik sampai layanan berbasis teknologi.
Sandal menyasar kebutuhan mobilitas. Smart ring menyasar perangkat sehari-hari yang dipadukan dengan fungsi ibadah. Sementara VR menyasar persiapan, orientasi dan pengalaman sebelum maupun selama perjalanan.
Triangga sendiri tidak selalu melihat hubungan tersebut sebagai sebuah ekosistem bisnis yang sejak awal dirancang secara terintegrasi.
Ketika host menghubungkan Shirata dan VR sebagai bagian dari ekosistem yang sama, Triangga justru mengatakan bahwa semuanya terjadi secara kebetulan.
Menurutnya, berbagai peluang tersebut datang pada waktu yang berbeda setelah proses panjang membangun usaha dan jaringan.
Umrah dan peluang usaha yang lebih luas
Pengalaman umrah Triangga pada 2023 juga menjadi bagian penting dalam ceritanya.
Ia mengatakan kondisi keuangannya ketika itu belum terlalu baik. Bersama istrinya, ia kemudian membayar uang muka perjalanan umrah. Setelah itu, menurut penuturannya, sejumlah proyek yang sebelumnya ia kejar justru datang kepadanya.
Sekitar tiga minggu sebelum keberangkatan, ia juga bertemu kembali dengan Fahim dalam konteks pengembangan bisnis VR.
Triangga memaknai rangkaian peristiwa tersebut sebagai bagian dari rezeki setelah proses yang ia jalani sejak memutuskan berhijrah pada 2020.
Ia mengatakan perubahan pandangannya terhadap bisnis juga terjadi setelah mengalami kondisi kesehatan yang cukup parah pada November 2020.
Sejak saat itu, ia tidak hanya mengejar pendapatan. Ia mengatakan ingin membangun usaha yang menurutnya memiliki kebermanfaatan dan keberkahan.
Pasar Muslim tidak harus selalu tampil kaku
Bagi Triangga, salah satu persoalan yang ingin ia jawab adalah anggapan bahwa produk Muslim harus tampil secara eksplisit sebagai produk religius.
Karena itu, ia memilih pendekatan lifestyle.
Konsep tersebut terlihat dari pengembangan smart ring yang tidak dibuat terlalu mencolok sebagai perangkat zikir, maupun gagasan streetwear Muslim yang tetap mengikuti perkembangan gaya berpakaian.
Menurut Triangga, menjadi Muslim tidak berarti harus meninggalkan gaya hidup modern atau pergaulan yang lebih luas.
Ia mengatakan dirinya mulai menggunakan identitas “Muslim entrepreneur” setelah menjalani proses hijrah. Namun, label tersebut menurutnya bukan sekadar strategi pemasaran.
Bisnis umrah tidak hanya soal travel
Dari cerita tersebut, ruang bisnis yang berkaitan dengan perjalanan umrah ternyata cukup luas.
Peluangnya dapat muncul sebelum jemaah berangkat, selama berada di Tanah Suci, hingga setelah kembali. Kebutuhannya pun beragam, mulai dari alas kaki, perangkat wearable, persiapan manasik, orientasi lokasi hingga konten pengalaman keagamaan.
Namun, tidak semua gagasan yang disampaikan Triangga dalam wawancara telah menjadi produk atau layanan dengan skala komersial yang sama.
Sebagian sudah berjalan, seperti Shirata dan VR Journey Indonesia. Sebagian lainnya masih berupa pengembangan atau gagasan.
Karena itu, angka bisnis, jumlah perangkat, harga produk, target pengguna dan klaim teknis dalam wawancara ini perlu dipahami sebagai keterangan dari Triangga, bukan data industri yang telah diverifikasi secara independen.
Pada akhirnya, pesan bisnis yang paling sering ia ulang sederhana: peluang tidak selalu datang dalam bentuk uang secara langsung.
Ia menekankan pentingnya konsistensi, ikhtiar dan keberanian bergerak sambil belajar.
“Gas dulu. Belajar di tengah jalan,” ujarnya.
Bagi Triangga, bisnis yang ingin bertahan bukan hanya bisnis yang menghasilkan uang, tetapi usaha yang menurutnya dapat memberi manfaat bagi orang lain.
Sumber: Podkes Media Asphirasi




