Berita

BPS Catat Jemaah Haji 2026 Habiskan Rp1.958,7 miliar Untuk Beli Oleh-Oleh

BPS Catat Jemaah Haji 2026 Habiskan Rp1.958,7 miliar Untuk Beli Oleh-Oleh

Selain mengukur kepuasan jemaah terhadap layanan haji, Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (6/8/2026), BPS juga memaparkan kajian mengenai pengeluaran jemaah haji selama pelaksanaan ibadah haji 1447 H/2026 M.

Data pengeluaran tersebut menggambarkan pengeluaran pribadi jemaah di luar biaya resmi penyelenggaraan ibadah haji.

Pengeluaran Pribadi Jemaah Haji Capai Rp4,2491 Triliun

BPS mencatat total pengeluaran pribadi jemaah haji pada 1447 H/2026 M mencapai Rp4.249,1 miliar atau sekitar Rp4,2491 triliun.

Pengeluaran tersebut terdiri atas:

  • Jemaah haji reguler: Rp3.391,8 miliar.
  • Jemaah haji khusus: Rp857,3 miliar.
  • Total: Rp4.249,1 miliar.

Pengeluaran itu mencakup sejumlah kebutuhan yang dikeluarkan secara pribadi oleh jemaah selama pelaksanaan ibadah haji.

Rincian Pengeluaran Jemaah

Berdasarkan pemaparan BPS, pengeluaran pribadi jemaah terbagi dalam beberapa pos:

  • Membeli oleh-oleh: Rp1.958,7 miliar.
  • Obat-obatan dan lainnya: Rp734,3 miliar.
  • Membayar DAM: Rp669,9 miliar.
  • Makanan tambahan, jajanan, dan minuman: Rp542,6 miliar.
  • Transportasi: Rp257,4 miliar.
  • Paket data dan internet: Rp86,2 miliar.

Dari keseluruhan pengeluaran tersebut, pembelian oleh-oleh menjadi pos dengan nilai terbesar.

Hampir Separuh Pengeluaran untuk Oleh-oleh

Pengeluaran untuk membeli oleh-oleh mencapai Rp1.958,7 miliar atau sekitar Rp1,96 triliun.

BPS mencatat nilai tersebut setara dengan 46,10 persen dari total pengeluaran pribadi jemaah haji.

Jika dibedakan berdasarkan jenis jemaah, pengeluaran untuk oleh-oleh terdiri atas:

  • Jemaah haji reguler: Rp1.422,1 miliar.
  • Jemaah haji khusus: Rp536,6 miliar.
  • Total: Rp1.958,7 miliar.

Dengan porsi 46,10 persen, pembelian oleh-oleh menyumbang hampir setengah dari seluruh pengeluaran pribadi jemaah yang dihitung dalam kajian BPS.

Kebutuhan Lain Jemaah Selama di Arab Saudi

Selain oleh-oleh, pengeluaran pribadi jemaah juga tersebar pada kebutuhan konsumsi, mobilitas, komunikasi, dan kebutuhan lainnya.

Pos obat-obatan dan lainnya menjadi pengeluaran terbesar kedua dengan nilai Rp734,3 miliar. Berikutnya adalah pembayaran DAM sebesar Rp669,9 miliar.

Sementara itu, pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari dan mobilitas tercatat lebih rendah:

  • Makanan tambahan, jajanan, dan minuman mencapai Rp542,6 miliar.
  • Transportasi mencapai Rp257,4 miliar.
  • Paket data dan internet mencapai Rp86,2 miliar.

Komposisi tersebut memberikan gambaran mengenai berbagai jenis pengeluaran yang muncul di luar biaya resmi penyelenggaraan ibadah haji selama jemaah menjalankan rangkaian ibadah di Arab Saudi.

IKLHI dan Pengeluaran Jemaah Jadi Bagian dari Kajian Haji 2026

Rilis BPS pada 6 Agustus 2026 dengan demikian memberikan dua gambaran berbeda mengenai penyelenggaraan haji 1447 H/2026 M.

Dari sisi layanan, IKLHI tercatat 83,28. Sementara dari sisi pengeluaran pribadi, BPS mencatat jemaah mengeluarkan total Rp4,2491 triliun, dengan pembelian oleh-oleh menjadi pos terbesar.

Angka Rp1,9587 triliun untuk oleh-oleh tidak merupakan biaya penyelenggaraan ibadah haji. Angka tersebut merupakan bagian dari pengeluaran pribadi jemaah haji yang dicatat dalam kajian BPS.

Dengan demikian, data tersebut menunjukkan besarnya pengeluaran tambahan yang muncul selama jemaah menjalankan ibadah haji, sekaligus memperlihatkan bahwa pembelian oleh-oleh menjadi komponen terbesar dalam pola pengeluaran pribadi jemaah pada 1447 H/2026 M.

Catatan ASPHIRASI: Biaya Pribadi Jemaah di Luar Paket

Kajian BPS menunjukkan pengeluaran pribadi jemaah haji 1447 H/2026 M mencapai Rp4.249,1 miliar, di luar biaya resmi penyelenggaraan. Pembelian oleh-oleh menyerap 46,10 persen dari jumlah itu, disusul obat-obatan dan lainnya Rp734,3 miliar serta pembayaran DAM Rp669,9 miliar. Dua pos terakhir menarik perhatian karena keduanya sering tidak dibicarakan secara terbuka saat calon jemaah membaca harga paket.

Selisih antara harga paket dan uang yang benar-benar dikeluarkan jemaah adalah sumber keluhan yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal. ASPHIRASI menilai penyelenggara perlu berhenti membiarkan jemaah menebak sendiri kebutuhan pribadinya, karena ketidakjelasan itu pada akhirnya kembali menjadi komplain kepada travel. Menyebut sebuah paket sudah mencakup segalanya, padahal pos seperti DAM ditanggung sendiri, adalah janji yang tidak bisa ditepati.

Tambahkan satu lembar perkiraan pengeluaran pribadi ke dalam materi manasik, dengan urutan pos mengikuti kajian BPS: oleh-oleh, obat-obatan, DAM, makanan tambahan dan minuman, transportasi, serta paket data dan internet. Jelaskan status DAM sejak awal, sebelum akad, bukan ketika jemaah sudah berada di Arab Saudi. Ingatkan jemaah membawa obat pribadi dari tanah air dan menyiapkan anggaran belanja terpisah, agar dana kebutuhan pokok selama ibadah tidak tergerus untuk oleh-oleh.

Sumber: BPS