Saudi Update

Saudi Targetkan Masjidil Haram Situs “Terpintar” 2030, Waktu Tunggu Layanan Mobilitas Diklaim Turun ke 9 Menit

Saudi Targetkan Masjidil Haram Situs “Terpintar” 2030, Waktu Tunggu Layanan Mobilitas Diklaim Turun ke 9 Menit

Arab Saudi menargetkan Masjidil Haram di Makkah menjadi salah satu situs paling cerdas di dunia pada 2030. Target itu mulai diterjemahkan ke layanan yang langsung bersentuhan dengan jemaah. Salah satunya, platform mobilitas pintar, disebut memangkas waktu tunggu layanan transportasi dari sekitar dua jam menjadi hanya sembilan menit pada musim haji terakhir.

Angka tersebut disampaikan Mohammed Al-Saqr, Wakil CEO Transformasi Digital di General Authority for the Care of the Affairs of the Grand Mosque and the Prophet’s Mosque. Menurut dia, transformasi digital telah mengubah sejumlah layanan di Masjidil Haram, termasuk mobilitas, pemesanan, dan pembayaran elektronik.

Tiga buktinya

Pertama, target 2030 sudah ditetapkan. Al-Saqr mengatakan berbagai inisiatif digital diarahkan untuk menjadikan Masjidil Haram salah satu situs paling cerdas di dunia pada 2030. Pernyataan itu diberitakan media Saudi Okaz dan juga dilaporkan Arab News berdasarkan keterangan resmi Saudi Press Agency (SPA).

Kedua, platform mobilitas menjadi salah satu hasil yang paling mudah diukur. Sistem tersebut mengotomatisasi layanan transportasi sekaligus mengintegrasikan pemesanan dan pembayaran elektronik. Menurut Al-Saqr, waktu tunggu layanan itu turun dari sekitar dua jam tiga tahun lalu menjadi sekitar sembilan menit pada musim haji terakhir.

Ketiga, digitalisasi masuk ke operasi lain. Sistem pengelolaan iftar di Masjidil Haram disebut menangani lebih dari 38 juta makanan dengan nilai transaksi mendekati 500 juta riyal Saudi. Proses administrasi yang sebelumnya membutuhkan sekitar delapan hari kini dapat diselesaikan dalam sekitar delapan menit. Platform Rafed juga menghubungkan 18 entitas pemerintah untuk menangani laporan di dua masjid suci.

Di sini letak ambisi Saudi. Mereka tidak hanya menjual gambaran Masjidil Haram sebagai ruang ibadah yang dipenuhi teknologi canggih. Digitalisasi diterapkan pada pekerjaan operasional yang menentukan pengalaman jutaan jemaah: transportasi, antrean layanan, pemesanan, pembayaran, hingga administrasi.

Perbedaannya terlihat jelas pada layanan mobilitas. Tiga tahun lalu, waktu tunggunya dilaporkan sekitar dua jam. Pada musim haji terakhir, angkanya sekitar sembilan menit. Yang berubah bukan waktu tunggu untuk masuk ke Masjidil Haram atau melaksanakan ibadah, melainkan waktu tunggu dalam layanan mobilitas atau transportasi jemaah.

Saudi juga memperluas penggunaan teknologi ke pengelolaan pergerakan pengunjung. SPA melaporkan pengembangan sistem digital, termasuk peta interaktif dan layanan yang memungkinkan pengunjung memantau kepadatan area Tawaf dan Sa’i secara langsung. Tujuannya sederhana: membantu pengunjung memilih waktu dan jalur yang lebih lengang.

Bagi jemaah, ukuran keberhasilannya bukan istilah seperti transformasi digital atau situs pintar. Ukurannya lebih sederhana: berapa lama mereka harus menunggu dan seberapa lancar mereka bisa bergerak. Di tempat yang melayani jutaan orang, memangkas waktu tunggu layanan transportasi dari sekitar dua jam menjadi sembilan menit adalah perubahan yang terasa.

Target “salah satu situs paling cerdas di dunia” masih merupakan sasaran 2030, bukan status yang sudah dicapai. Tetapi Saudi kini punya angka untuk menjual ambisi itu. Dua jam menjadi sembilan menit menunjukkan bagaimana proyek digital tersebut mulai diukur dari pengalaman jemaah, bukan sekadar janji teknologi.

Catatan ASPHIRASI: Angka Layanan dan Harapan Jemaah

Artikel ini sudah menandai hal yang penting: angka waktu tunggu yang disebut mengacu pada layanan mobilitas, bukan waktu untuk masuk ke Masjidil Haram atau melaksanakan ibadah. Pembedaan itu perlu dijaga ketika informasinya diteruskan kepada jemaah, agar harapan yang dibawa sejak dari Tanah Air tidak meleset dari kenyataan di lapangan.

Digitalisasi layanan juga membawa konsekuensi praktis bagi penyelenggara. Ketika pemesanan dan pembayaran berpindah ke aplikasi, jemaah yang tidak terbiasa menggunakan ponsel membutuhkan pendampingan, bukan sekadar tautan yang dikirim ke grup percakapan. Pembimbing dan petugas pendamping perlu menguasai alurnya lebih dahulu.

ASPHIRASI mengingatkan bahwa target 2030 yang disebut dalam berita ini masih berstatus sasaran, dan layanan di lapangan dapat berubah antarmusim. Karena itu, kecepatan layanan pihak ketiga sebaiknya tidak dijadikan janji dalam materi promosi paket. Yang bisa dijanjikan penyelenggara adalah pendampingan, bukan performa sistem yang dikelola pihak lain.

Sumber: SPA

Bagikan