Outlook

Bukan Cari Kaya, Keuntungan Travel Dipakai Bina 1.200 Mualaf

Bukan Cari Kaya, Keuntungan Travel Dipakai Bina 1.200 Mualaf

Catatan opini atas percakapan Ustadz Muhammad Gohan Matondang di kanal Media Asphirasi

Ada kalimat yang terdengar sederhana, tetapi cukup untuk menggoyahkan keyakinan seseorang: “Mustahil Tuhan butuh shalat. Siapa pun yang shalat, bukan Tuhan.”

Kalimat itu, menurut penuturan Ustadz Muhammad Gohan Matondang, menjadi salah satu titik balik ketika ia masih aktif sebagai penginjil Protestan. Ia tidak berpindah agama karena marah, pernikahan, atau mengejar panggung. Ia berpindah setelah menemukan pertanyaan yang tidak lagi bisa ia jawab dengan keyakinan yang sama.

Dalam podcast Media Asphirasi berjudul “Bukan Cari Kaya”, kisah itu kemudian bergerak ke pertanyaan yang lebih jarang dibahas: apa yang dilakukan setelah seseorang menemukan hidayah?

Banyak kisah mualaf berhenti pada momen syahadat. Percakapan dengan Gohan justru menarik karena cerita itu dilanjutkan ke fase setelahnya. Ia menuturkan bagaimana sebagian keuntungan bisnis travel haji dan umrah yang dikelolanya digunakan untuk pembinaan mualaf. Melalui Yayasan Pembina Mualaf Riau, ia menyebut telah membina lebih dari 1.200 orang.

Angka itu memang terdengar besar. Namun, jika percakapan tersebut dibaca lebih jauh, persoalannya bukan sekadar berapa banyak orang yang dibina. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana pembinaan itu dilakukan dan apa yang terjadi setelah seseorang mengucapkan syahadat.

Dari mengetuk pintu rumah Muslim hingga menanggung akibat pilihannya

Gohan lahir dan besar dalam keluarga Protestan. Sejak kecil ia berada di lingkungan gereja dan, saat remaja, aktif dalam kegiatan penginjilan. Ia bahkan pernah mengetuk pintu rumah-rumah Muslim untuk berbicara tentang keyakinannya.

Keraguan kemudian muncul dari pertanyaan tentang Yesus yang berdoa di Taman Getsemani. Jika yang berdoa adalah Tuhan, kepada siapa ia memohon? Pertanyaan itu tidak serta-merta membuat Gohan masuk Islam. Ia mencari jawaban, berdiskusi, dan mempelajari Islam lebih jauh.

Ia kemudian bersyahadat pada 25 Mei 2005 di Masjid Asrama Haji Medan, ketika berusia 21 tahun dan masih kuliah.

Selama sekitar tiga bulan, ia menyembunyikan keislamannya dari keluarga. Ia berpura-pura jogging pada waktu subuh, padahal singgah ke masjid untuk salat. Dalam doanya, ia meminta keberanian untuk memberi tahu keluarga.

Ketika akhirnya keputusan itu diketahui, respons keluarga tidak mudah. Kakeknya memberi ultimatum: kembali ke gereja atau keluar dari rumah. Gohan memilih keluar.

Bagian ini penting bukan untuk meromantisasi penderitaan. Justru sebaliknya. Pengalaman tersebut menjelaskan mengapa ia kemudian melihat pembinaan mualaf sebagai sesuatu yang tidak berhenti pada syahadat.

Seseorang yang baru masuk Islam bisa menghadapi persoalan keluarga, ekonomi, tempat tinggal, hingga persoalan sosial. Syahadat adalah awal, bukan garis akhir.

Kualitas, bukan papan skor

Sejak 2014, Gohan menuturkan bahwa dirinya bersama tim melalui Yayasan Pembina Mualaf Riau telah membina lebih dari 1.200 orang.

Angka tersebut mudah dijadikan ukuran keberhasilan. Namun, Gohan justru mengatakan, “Kami tidak ingin menang secara kuantitas. Kami ingin menang secara kualitas.”

Di sinilah letak bagian paling menarik dari percakapan tersebut.

Menurut penuturannya, pembinaan tidak hanya berupa pengajaran agama. Ada kelas pembinaan, pemberdayaan ekonomi, pesantren, bantuan sunat, pakaian, mushaf, hingga pendampingan ketika muncul persoalan hukum dengan keluarga.

Ada pula masa tunggu sebelum pernikahan bagi sebagian mualaf yang baru bersyahadat.

Artinya, pendekatan yang ditawarkan bukan sekadar membawa seseorang menuju syahadat, lalu menganggap tugas selesai.

Di tengah kebiasaan mengukur keberhasilan dakwah melalui angka—berapa orang yang masuk Islam, berapa kegiatan yang digelar, atau berapa banyak orang yang hadir—penekanan pada kualitas patut diperhatikan.

Hidayah bukan proyek statistik. Mualaf juga bukan sekadar angka dalam laporan kegiatan.

Jika seseorang masuk Islam tetapi kemudian tidak mendapat pendampingan ketika menghadapi persoalan keluarga atau ekonomi, maka syahadat tersebut belum tentu menjadi awal kehidupan yang lebih baik.

Travel sebagai wasilah, bukan altar

Jabal Tour Internasional tetap merupakan sebuah bisnis. Menyelenggarakan perjalanan haji dan umrah adalah kegiatan usaha yang membutuhkan modal, tenaga, manajemen, dan tentu saja keuntungan.

Karena itu, yang menarik dari cerita Gohan bukan keberadaan bisnis travelnya, melainkan bagaimana ia menuturkan penggunaan sebagian keuntungan tersebut untuk pembinaan mualaf.

Sebelum terjun penuh ke jalur tersebut, Gohan pernah menjadi aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Sosial. Ia kemudian memilih meninggalkan pekerjaan tersebut karena merasa dapat memberi manfaat melalui jalur yang berbeda.

Ia juga mengutip prinsip bahwa siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah akan mendapat pengganti yang lebih baik.

Kalimat semacam ini mudah berubah menjadi slogan tentang “rezeki setelah berkorban” jika dilepaskan dari konteks. Tetapi dalam kisah yang ia ceritakan, pengorbanan tersebut tidak berhenti pada kata-kata. Ia menuturkan pernah keluar dari rumah, meninggalkan pekerjaan sebagai ASN, memulai usaha dari kelompok jemaah yang masih terbatas, dan tetap menyisihkan keuntungan untuk pembinaan.

Di titik ini, kisah tersebut menantang dua pandangan sekaligus.

Pertama, pandangan bahwa bisnis yang membawa simbol agama otomatis sah menjadi alat pemasaran apa pun. Kedua, anggapan bahwa bisnis di sektor keagamaan selalu identik dengan komersialisasi agama.

Bisnis halal tentu boleh mencari keuntungan. Persoalannya adalah untuk apa keuntungan itu digunakan dan bagaimana bisnis tersebut dijalankan.

Jemaah tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas. Mualaf juga tidak seharusnya menjadi alat untuk membangun citra.

Jika keuntungan sebuah usaha dapat menjadi sumber pembinaan, maka keuntungan itu tidak otomatis bertentangan dengan nilai dakwah. Yang perlu dijaga justru cara mendapatkannya dan bagaimana amanah kepada jemaah tetap dijalankan.

Doa yang tidak berhenti pada diri sendiri

Setelah menunaikan haji pada 2009, Gohan menuturkan dua doa yang ia panjatkan: mendapat pasangan dan melihat orang tuanya memperoleh hidayah.

Doa pertama terkabul. Untuk yang kedua, ceritanya tidak demikian.

Ayahnya meninggal pada 2010 tanpa masuk Islam, sementara ibunya tetap memeluk agama Kristen. Namun hubungan mereka tidak terputus.

Bagian ini justru menjadi salah satu sisi paling manusiawi dari kisah tersebut.

Cerita tentang mualaf sering disajikan seperti kisah kemenangan: seseorang menemukan Islam, keluarga akhirnya menerima, lalu semuanya selesai. Kenyataannya tidak selalu demikian.

Tidak semua doa selesai dalam satu episode. Tidak semua keluarga mengikuti pilihan yang sama. Dan hidup bersama perbedaan keyakinan dalam satu keluarga bisa menjadi ujian yang jauh lebih panjang daripada momen ketika seseorang mengucapkan syahadat.

Karena itu, keputusan Gohan untuk tetap menjaga hubungan dengan ibunya layak dilihat sebagai bagian dari kisah tersebut, bukan sekadar catatan tambahan.

Pesan yang tidak boleh disalahpahami

Di penghujung percakapan, Gohan menyampaikan pesan kepada orang yang sudah memiliki keinginan masuk Islam agar tidak menunda karena takut. Menurutnya, kemudahan akan terbuka setelah keputusan itu diambil.

Semangat tersebut dapat dipahami. Namun, ada satu catatan penting: ketakutan keluarga dan persoalan ekonomi yang dihadapi sebagian mualaf bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan kalimat “jangan takut”.

Karena itu, ajakan untuk berani mengambil keputusan seharusnya berjalan bersama pendampingan.

Tempat tinggal sementara, pendampingan hukum, bantuan administratif, dukungan ekonomi, dan pembelajaran agama yang sabar bisa menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Justru di sinilah keberadaan lembaga pembinaan menjadi penting. Orang yang baru mengucapkan syahadat tidak selalu membutuhkan lebih banyak slogan. Mereka mungkin membutuhkan seseorang yang hadir ketika konsekuensi dari keputusan itu mulai terasa.

Hidayah bukan milik manusia. Tetapi merawat orang yang baru menerima hidayah adalah bagian dari tanggung jawab manusia.

Apa yang sebenarnya ditawarkan judul “Bukan Cari Kaya”?

Islam tidak memusuhi harta. Persoalannya adalah arah dan cara memperoleh harta tersebut.

Gohan tidak sedang mengajak pelaku usaha travel untuk berhenti mencari keuntungan. Ia justru menunjukkan kemungkinan lain: keuntungan bisnis dapat menjadi sarana untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

Dalam industri umrah yang juga menghadapi berbagai persoalan, mulai dari gagal berangkat hingga perang harga, contoh seperti ini patut dilihat secara proporsional.

Bukan untuk langsung menyucikannya. Bukan pula untuk mencurigainya tanpa dasar.

Lihat bagaimana bisnisnya berjalan. Lihat layanan kepada jemaah. Lihat legalitasnya. Dan jika ada klaim mengenai jumlah penerima manfaat, lihat pula apakah angka tersebut dapat diverifikasi.

Sikap kritis tidak bertentangan dengan apresiasi. Justru dengan sikap kritis, niat baik tidak berhenti sebagai cerita.

Nilai terkuat dari percakapan ini bukan semata-mata angka 1.200 mualaf atau kisah Gohan sebagai mantan penginjil yang kemudian menjadi ustaz.

Nilainya ada pada gagasan bahwa bisnis dapat tumbuh tanpa harus berhenti pada akumulasi keuntungan, dan dakwah tidak seharusnya berhenti pada momen ketika seseorang mengucapkan syahadat.

Jika bisnis boleh tumbuh, biarlah ia tumbuh bersama tanggung jawab. Jika dakwah boleh berkembang, biarlah ia berkembang bersama pendampingan yang tidak berhenti setelah kamera dimatikan.

Pada akhirnya, pertanyaan Gohan ketika masih muda memang berbeda dengan pertanyaan yang muncul dari kisahnya hari ini.

Dulu ia mempertanyakan Tuhan yang membutuhkan doa.

Kini, kisahnya mengajak kita mempertanyakan sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: ketika seseorang memperoleh rezeki dari bisnis yang melayani tamu-tamu Allah, untuk apa rezeki tersebut digunakan?

Jawabannya tidak perlu selalu berupa slogan. Ia bisa terlihat dari bagaimana seseorang menjalankan bisnis, memperlakukan jemaah, dan membelanjakan keuntungan yang diperolehnya.

Penutup

Kisah Ustadz Muhammad Gohan Matondang bukan bukti bahwa semua travel umrah adalah bisnis yang sempurna. Ia juga bukan alasan untuk menganggap setiap bisnis yang membawa misi keagamaan pasti bebas dari persoalan.

Kisah ini lebih sederhana dari itu.

Ia menunjukkan bahwa perjalanan menjadi mualaf tidak berhenti pada syahadat, dan bahwa keuntungan bisnis dapat diarahkan menjadi bagian dari proses pembinaan.

Jika ada yang patut ditiru dari percakapan tersebut, mungkin bukan sekadar judul “Bukan Cari Kaya”. Yang lebih penting adalah gagasan bahwa keberhasilan tidak harus diukur dari berapa banyak orang yang berhasil dikumpulkan, tetapi dari seberapa jauh manfaat yang ditinggalkan.

Sumber: Podcast Media Asphirasi

Bagikan