
KEDIRI — Rencana menjadikan Bandara Internasional Dhoho Kediri sebagai salah satu titik keberangkatan jemaah haji Jawa Timur terus memasuki tahap persiapan. Pada Kamis (20/8/2026), Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) bersama pemerintah daerah dan sejumlah pemangku kepentingan kembali membahas kesiapan bandara tersebut.
Pembahasan ini merupakan bagian dari persiapan penyelenggaraan haji 1448 H/2027 M. Rencana penggunaan Dhoho sebelumnya telah dibahas pemerintah sebagai alternatif untuk mengurangi kepadatan layanan haji yang selama ini terpusat di kawasan Surabaya.
Pada awal Juli 2026, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf menyatakan pemerintah mulai mengkaji pemanfaatan Bandara Dhoho sebagai embarkasi haji. Salah satu pertimbangannya adalah tingginya beban pelayanan Embarkasi Surabaya yang pada musim haji 2026 menangani 116 kelompok terbang.
Persiapan Tidak Hanya Soal Bandara
Rapat koordinasi di Kediri pada 20 Agustus tidak hanya membicarakan keberadaan fasilitas bandara. Kemenhaj Jatim menyebut sejumlah komponen pelayanan perlu dipersiapkan secara terpadu sebelum operasional haji dapat dilaksanakan.
Beberapa aspek yang menjadi perhatian meliputi:
- kesiapan sarana dan prasarana;
- dukungan operasional penyelenggaraan haji;
- integrasi layanan embarkasi;
- proses pemeriksaan dan pelayanan jemaah;
- pengelolaan keberangkatan;
- dukungan fasilitas lain yang berkaitan dengan pelayanan jemaah;
- koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola bandara, dan instansi terkait.
Kepala Kanwil Kemenhaj Jawa Timur Mahmudi mengatakan kesiapan embarkasi tidak cukup dinilai dari infrastruktur, namun seluruh unsur yang terlibat dalam pelayanan juga perlu dipastikan siap agar proses keberangkatan berlangsung aman, tertib, efektif, dan memberikan kemudahan bagi jemaah.
Pemerintah Targetkan Operasional Tahun Depan
Sekretaris Direktorat Jenderal Pelayanan Haji Kemenhaj RI Abdul Haris menyampaikan harapan agar persiapan dapat diselesaikan sehingga operasional haji melalui Bandara Dhoho dapat diwujudkan pada tahun mendatang.
Namun, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan Dhoho sebagai embarkasi masih berada dalam tahap persiapan, bukan berarti seluruh mekanisme operasional telah berjalan.
Sebelumnya, pemerintah memang telah mengarahkan kajian pemanfaatan Dhoho untuk penyelenggaraan haji 2027. Kemenhaj menyebut bandara tersebut dinilai memiliki kapasitas untuk penerbangan haji, sementara pemanfaatannya diharapkan dapat membantu mengurangi kepadatan di Bandara Juanda dan Asrama Haji Surabaya.
Pada akhir Juni, kesiapan fasilitas Dhoho juga telah ditinjau dalam rangkaian persiapan lintas instansi. Bea Cukai Kediri mencatat kegiatan tersebut mencakup peninjauan fasilitas, sarana-prasarana, dan dukungan operasional bandara.
Jemaah dari Wilayah Sekitar Berpotensi Mendapat Akses Lebih Dekat
Jika rencana tersebut terealisasi, Dhoho dapat menjadi alternatif bagi jemaah dari sejumlah wilayah di Jawa Timur yang selama ini harus menuju kawasan Surabaya untuk proses keberangkatan.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Madiun sebelumnya menyebut jemaah dari wilayah barat Jawa Timur, termasuk Madiun, direncanakan dapat menggunakan Bandara Dhoho untuk pemberangkatan pada musim haji berikutnya.
Artinya, manfaat yang diharapkan bukan hanya berupa penambahan titik penerbangan. Pembagian beban pelayanan juga menjadi bagian dari tujuan pengembangan alternatif embarkasi tersebut.
Pada musim haji 2026, Embarkasi Surabaya menangani 116 kloter. Tingginya volume tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mengkaji pembagian sebagian keberangkatan melalui Dhoho.
Pemkot Kediri Siapkan Dukungan
Pemerintah Kota Kediri menyatakan siap mendukung kebutuhan persiapan operasional melalui koordinasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah lain, pengelola bandara, dan pemangku kepentingan terkait.
Dalam rapat 20 Agustus, Penjabat Sekretaris Daerah Kota Kediri Endang Kartika Sari menyatakan pemerintah daerah siap mendukung berbagai persiapan strategis yang diperlukan.
Dukungan pemerintah daerah menjadi salah satu bagian penting karena penyelenggaraan embarkasi tidak hanya menyangkut aktivitas penerbangan. Kesiapan layanan, akses, koordinasi antarinstansi, dan fasilitas pendukung juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan jemaah.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Kediri juga menyatakan menyiapkan lahan sekitar 65 hektare untuk mendukung pengembangan fasilitas pelayanan haji dalam jangka panjang. Lahan tersebut berada sekitar satu kilometer dari Bandara Dhoho.
Sumber: Kemenhaj Jatim




