
Jakarta, 21 Agustus 2026 — Delegasi Dewan Federasi Rusia bertemu dengan Menteri Haji dan Umrah Indonesia Mochamad Irfan Yusuf di Jakarta pada Jumat (21/8/2026). Pertemuan tersebut membahas pengalaman penyelenggaraan haji di kedua negara, dengan perhatian delegasi Rusia antara lain tertuju pada sistem antrean, digitalisasi, pembiayaan, transportasi, dan pelayanan jemaah.
Informasi ini bersumber dari rilis Kementerian Haji dan Umrah yang diberikan sebagai bahan utama laporan. Exact match is not found dalam penelusuran web untuk rilis tersebut, sehingga rincian di bawah ini mengikuti informasi dalam materi sumber dan belum diverifikasi secara independen.
Delegasi Rusia Datang untuk Mempelajari Pengelolaan Haji
Delegasi Rusia dipimpin Wakil Ketua Pertama Komite Ilmu Pengetahuan, Pendidikan, dan Kebudayaan Dewan Federasi Rusia Ilyas Magomed-Salamovich Umakhanov. Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov dan sejumlah perwakilan lembaga keagamaan Muslim Rusia juga ikut dalam pertemuan.
Dari pihak Indonesia, pertemuan dihadiri Menteri Haji dan Umrah beserta sejumlah pejabat kementerian. Anggota Komite III DPD RI Filep Wamafma dan Erni Daryanti juga tercatat hadir.
Pokok perhatian delegasi Rusia adalah pengalaman Indonesia menangani jumlah calon jemaah yang besar. Berdasarkan angka yang disampaikan dalam pertemuan:
- Kuota haji Indonesia disebut sekitar 221 ribu jemaah.
- Jumlah pendaftar disebut telah melampaui lima juta orang.
- Rusia disebut memiliki kuota sekitar 25 ribu jemaah.
Perbedaan skala tersebut menjadi salah satu konteks pembahasan mengenai bagaimana data pendaftar dan keberangkatan dikelola.
Sistem Antrean Menjadi Salah Satu Pembahasan Utama
Dari pendaftaran hingga nomor porsi
Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) diperkenalkan dalam pertemuan sebagai bagian dari mekanisme pengelolaan jemaah Indonesia.
Rilis tersebut menyebut sistem ini mencakup sejumlah tahapan:
- Pendataan calon jemaah.
- Pendaftaran haji.
- Penerbitan nomor porsi.
- Pengelolaan antrean keberangkatan.
Calon jemaah disebut melakukan setoran awal sebesar Rp25 juta melalui Bank Penerima Setoran untuk memperoleh nomor porsi.
Dalam materi pertemuan itu juga disebutkan bahwa penataan distribusi kuota terus dilakukan dengan arah masa tunggu secara nasional sekitar 26 tahun.
Bagi delegasi Rusia, mekanisme antrean terintegrasi tersebut menjadi salah satu hal yang dianggap relevan untuk dipelajari. Rilis menyebut Rusia belum menerapkan mekanisme antrean terintegrasi seperti yang digunakan Indonesia.
Pembiayaan Haji Ikut Dibahas
Pembicaraan kemudian mencakup pengelolaan dana haji dan kaitannya dengan pembiayaan penyelenggaraan.
Delegasi Rusia disebut mendalami mekanisme yang melibatkan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), khususnya hubungan antara sistem pendaftaran, pengelolaan dana, dan pembiayaan operasional haji.
Pembahasan ini menempatkan pengelolaan haji bukan hanya sebagai persoalan pendaftaran dan keberangkatan, tetapi juga sebagai rangkaian pengelolaan dana yang harus mendukung penyelenggaraan di Indonesia dan Arab Saudi.
Rusia Menghadapi Tantangan Berbeda
Konsentrasi jemaah dari Kaukasus Utara
Dalam pertemuan tersebut, delegasi Rusia menjelaskan kondisi penyelenggaraan haji di negaranya.
Menurut materi sumber:
- Rusia memiliki kuota sekitar 25 ribu jemaah.
- Sekitar 70–80 persen jemaah berasal dari kawasan Kaukasus Utara.
- Wilayah yang disebut antara lain Dagestan, Chechnya, Ingushetia, dan Kabardino-Balkaria.
- Luas wilayah Rusia menjadi tantangan dalam transportasi dan koordinasi penyelenggaraan.
Penyelenggaraan haji di Rusia disebut berkembang setelah era Uni Soviet. Namun, sistem pengelolaan antrean di negara tersebut belum menggunakan mekanisme terintegrasi seperti yang dibahas dari pengalaman Indonesia.
Dengan demikian, pembicaraan tidak hanya berisi penjelasan mengenai sistem Indonesia. Delegasi Rusia juga membawa persoalan domestiknya sendiri, terutama terkait kondisi geografis dan koordinasi jemaah.
Biaya Penerbangan hingga Transfer Dana Menjadi Isu Lain
Faktor global ikut memengaruhi penyelenggaraan
Pembahasan kemudian melebar ke sejumlah persoalan yang berada di luar pengelolaan administratif jemaah.
Kedua pihak membicarakan:
- Kenaikan biaya penerbangan.
- Fluktuasi harga avtur.
- Kondisi ekonomi global.
- Perubahan kebijakan layanan Pemerintah Arab Saudi.
Delegasi Rusia juga menyampaikan adanya kendala transfer dana ke Arab Saudi yang dikaitkan dengan dinamika hubungan internasional dan sanksi.
Dalam materi sumber, delegasi Rusia menyatakan harapan agar urusan keagamaan dapat terbebas dari hambatan yang muncul akibat persoalan politik global.
Poin tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan haji juga menghadapi faktor eksternal, mulai dari biaya transportasi hingga persoalan transaksi lintas negara.
Belum Ada Kesepakatan Teknis yang Diumumkan
Pertemuan tersebut belum menghasilkan rincian mengenai bentuk kerja sama teknis yang sudah disepakati.
Materi sumber menyebut adanya keterbukaan untuk berbagi pengalaman dalam sejumlah bidang, antara lain:
- Digitalisasi.
- Pendataan jemaah.
- Pengelolaan pembiayaan.
- Koordinasi pelayanan di Arab Saudi.
Pembahasan mengenai kerja sama tersebut masih ditempatkan sebagai potensi tindak lanjut, bukan sebagai kesepakatan teknis yang telah dijalankan.
Rusia Mengundang Kunjungan Balasan
Pada akhir pertemuan, delegasi Rusia menyerahkan undangan kunjungan balasan kepada pihak Indonesia.
Kunjungan tersebut disebut ditujukan untuk melihat kehidupan komunitas Muslim di Rusia sekaligus melanjutkan pembahasan mengenai kemungkinan kerja sama teknis.
Sumber: Kemenhaj RI




