
Dugaan penipuan yang menimpa belasan pedagang Pasar Wonokromo, Surabaya, menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati sebelum mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji. Selain memastikan pihak penyelenggara memiliki izin resmi, calon jemaah juga perlu memahami setiap dokumen yang ditandatangani serta memastikan seluruh proses keberangkatan mengikuti mekanisme yang berlaku.
Perhatian terhadap pentingnya verifikasi tersebut mengemuka setelah 15 pedagang Pasar Wonokromo mengaku mengalami kerugian dengan total nilai diperkirakan lebih dari Rp2 miliar akibat janji keberangkatan haji. Berdasarkan laporan Kompas.com, para korban menyampaikan pengaduan di Rumah Aspirasi Wakil Wali Kota Surabaya pada 28 Juli 2026.
Salah seorang korban, Budiati, mengaku telah mendaftarkan diri untuk berhaji sejak 2019 melalui pihak yang sebelumnya pernah memberangkatkannya umrah pada 2024. Pengalaman tersebut membuatnya menaruh kepercayaan bahwa proses keberangkatan haji juga akan berjalan sebagaimana dijanjikan.
Namun, keberangkatan yang diharapkan pada musim haji 2025 disebut tertunda. Dalam keterangannya kepada Kompas.com, korban juga mengaku baru mengetahui bahwa dirinya pernah menandatangani dokumen pembiayaan pada November 2025 tanpa memahami sepenuhnya isi dokumen tersebut. Menurut pengakuannya, ia tidak mengetahui bahwa pihak yang menemuinya berasal dari perusahaan pembiayaan.
Korban menyebut nilai kerugian yang dialami masing-masing orang berbeda-beda, mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta rupiah. Secara keseluruhan, kerugian para korban diperkirakan mencapai lebih dari Rp2 miliar dan hingga kini mereka mengaku belum menerima pengembalian dana yang dijanjikan.
Pentingnya Memastikan Jalur Resmi
Kasus ini menunjukkan bahwa pengalaman positif pada perjalanan ibadah sebelumnya tidak selalu dapat dijadikan jaminan untuk transaksi berikutnya. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap melakukan verifikasi secara mandiri sebelum menyetorkan dana atau menandatangani dokumen apa pun yang berkaitan dengan keberangkatan haji.
Calon jemaah juga perlu memastikan bahwa pendaftaran dilakukan melalui mekanisme resmi sesuai ketentuan pemerintah. Memeriksa legalitas penyelenggara, meminta bukti pembayaran yang sah, memahami isi perjanjian, serta tidak mudah tergiur dengan janji percepatan keberangkatan merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko kerugian.
Di tengah tingginya minat masyarakat untuk menunaikan ibadah haji, kehati-hatian dalam memilih jalur keberangkatan menjadi bagian yang tidak kalah penting dibandingkan persiapan ibadah itu sendiri. Verifikasi sejak awal dapat membantu calon jemaah menghindari persoalan yang berpotensi menghambat keberangkatan maupun menimbulkan kerugian finansial.




