
Keberangkatan rombongan umrah yang difasilitasi Syakira Tour kembali mengalami penundaan setelah jadwal keberangkatan pada Rabu (29/7/2026) tidak terlaksana. Penundaan tersebut menjadi yang ketiga kalinya, sehingga memicu tuntutan kepastian dari puluhan calon jemaah terkait keberangkatan maupun pengembalian dana.
Dalam pertemuan antara pihak Syakira Tour dan para calon jemaah di Banjarmasin, Syakira Tour menawarkan dua opsi penyelesaian, yakni penjadwalan ulang keberangkatan atau pengembalian dana bagi jemaah yang memilih membatalkan perjalanan.
Syakira Tour Tawarkan Penjadwalan Ulang atau Refund
Pemilik Syakira Tour, Naufal, mengatakan perusahaan menyiapkan skema keberangkatan ulang bagi para jemaah yang masih ingin melanjutkan ibadah umrah.
"Kami menawarkan dua opsi, yakni reschedule pada Oktober hingga November agar dapat diberangkatkan secara serentak, atau diberangkatkan secara bertahap mulai awal September dengan kuota sekitar 10 hingga 15 orang setiap keberangkatan."
Selain penjadwalan ulang, Syakira Tour juga membuka opsi pengembalian dana.
"Untuk refund memang belum bisa dilakukan hari ini. Namun akan kami realisasikan secara bertahap dalam waktu hingga tiga bulan ke depan. Insya Allah semuanya akan selesai."
Menurut Naufal, keterlambatan keberangkatan bermula dari proses penerbitan visa yang tidak berjalan sesuai jadwal. Ia mengatakan tiket pesawat telah dipesan sebelum visa terbit sehingga tidak dapat digunakan.
Pihaknya menambahkan proses penerbitan visa masih berlangsung. Selain itu, tingginya harga tiket pesawat dan keterbatasan ketersediaan kursi dinilai menjadi kendala untuk memberangkatkan seluruh rombongan dalam waktu bersamaan.
Jemaah Minta Kepastian Setelah Penundaan Berulang
Puluhan calon jemaah menyampaikan keberangkatan mereka telah mengalami penundaan sebanyak tiga kali sebelum kembali batal pada 29 Juli 2026.
Sebagian jemaah disebut telah melakukan berbagai persiapan sebelum keberangkatan, termasuk menggelar selamatan, berpamitan dengan keluarga, menyewa kendaraan menuju Banjarmasin, hingga berada di Bandara Syamsudin Noor saat jadwal keberangkatan sebelumnya.
Perwakilan jemaah mengatakan yang mereka harapkan saat ini adalah kepastian dari pihak penyelenggara.
"Kami hanya ingin kepastian. Jika memang belum bisa berangkat, sampaikan secara terbuka agar kami tidak terus menunggu tanpa kejelasan."
Selain menunggu kejelasan jadwal keberangkatan, sebagian jemaah juga meminta kepastian mengenai mekanisme dan waktu pengembalian dana bagi mereka yang memilih membatalkan perjalanan.
Penyelesaian Menunggu Realisasi
Syakira Tour menyatakan akan melaksanakan keberangkatan secara bertahap mulai September atau secara serentak pada Oktober hingga November bagi jemaah yang memilih penjadwalan ulang.
Sementara itu, proses pengembalian dana disebut akan dilakukan secara bertahap dengan target penyelesaian paling lama tiga bulan.
Hingga pertemuan tersebut berakhir, para calon jemaah masih menunggu realisasi atas salah satu dari dua opsi yang ditawarkan Syakira Tour, baik berupa kepastian jadwal keberangkatan maupun pengembalian dana sesuai pilihan masing-masing.
Catatan ASPHIRASI: Tiket Dipesan Sebelum Visa Terbit
Inti persoalan pada kasus ini disebutkan terang oleh penyelenggaranya sendiri, yaitu tiket pesawat telah dipesan sebelum visa terbit sehingga tidak dapat digunakan. Akibatnya ditanggung jemaah yang sudah menggelar selamatan, berpamitan dengan keluarga, menyewa kendaraan menuju Banjarmasin, bahkan sempat berada di Bandara Syamsudin Noor. Ini kegagalan urutan kerja, bukan keadaan yang datang tiba-tiba, dan penundaannya sudah terjadi tiga kali.
ASPHIRASI tidak akan berpura-pura bahwa praktik mengunci tiket lebih dulu demi harga adalah hal asing di industri ini. Justru karena umum, ia perlu dinyatakan sebagai praktik berbahaya: begitu visa meleset, dana perusahaan tertahan pada tiket yang tidak bisa dipakai. Tawaran pengembalian dana yang baru bisa direalisasikan bertahap sampai tiga bulan ke depan menunjukkan uang jemaah tidak tersedia seketika, dan itu perlu dibaca sebagai peringatan, bukan sekadar keterlambatan jadwal.
Untuk penyelenggara: jangan mengunci tiket sebelum visa terbit, dan pisahkan penyimpanan dana per kelompok keberangkatan agar setoran satu rombongan tidak dipakai menutup rombongan lain. Bila penundaan tetap terjadi, sampaikan jadwal dan mekanisme pengembalian dana secara tertulis dengan tanggal, bukan lisan dalam pertemuan. Untuk jemaah: mintalah pilihan penjadwalan ulang atau pengembalian dana itu dalam bentuk tertulis dan bertanggal, simpan seluruh bukti setor, dan jangan menambah pembayaran untuk keberangkatan yang sudah tertunda sebelum ada kepastian dokumen.




