
Jakarta - Selama ini, pesawat haji mengantar jemaah ke Arab Saudi, kemudian kembali ke Indonesia tanpa penumpang. Pemerintah kini berupaya mengubah kondisi tersebut agar penerbangan pulang tidak lagi kosong dan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi Indonesia.
Task Force Lintas Kementerian Dibentuk untuk Optimalisasi Penerbangan Haji
Kementerian Haji dan Umrah bersama Kementerian Perhubungan, Kementerian Pariwisata, dan PT Garuda Indonesia membentuk task force lintas kementerian untuk memaksimalkan pemanfaatan penerbangan haji.
Langkah ini merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo dalam evaluasi Haji 2026 sekaligus bagian dari persiapan penyelenggaraan Haji 2027.
Pemerintah Telah Mengantongi Izin dari Otoritas Penerbangan Arab Saudi
Menurut Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, pemerintah telah memperoleh izin dari otoritas penerbangan Arab Saudi. Dengan izin tersebut, pesawat Indonesia yang kembali dari Tanah Suci dapat mengangkut penumpang menuju Indonesia.
“Presiden memberikan arahan agar pesawat yang mengantar jemaah haji tidak kembali dalam kondisi kosong. Karena itu kami berkoordinasi dengan Kemenhub, Kemenpar, dan Garuda Indonesia untuk menyiapkan langkah-langkah konkret sehingga penerbangan tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi Indonesia,” ujar Dahnil.
Penerbangan Pulang Direncanakan Mengangkut Wisatawan Arab Saudi dan Timur Tengah
Pemerintah merencanakan agar penerbangan yang sebelumnya kembali tanpa penumpang dimanfaatkan untuk mengangkut wisatawan dari Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah menuju berbagai destinasi wisata di Indonesia.
Selain meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat industri penerbangan nasional serta menghasilkan devisa bagi negara.
Asphirasi: Optimalisasi Penerbangan Haji Berpotensi Mengubah Arus Devisa
Asphirasi menilai bahwa langkah ini bukan sekadar berkaitan dengan efisiensi penerbangan.
Selama ini, aktivitas haji dan umrah identik dengan arus keluar devisa. Kini, pemerintah mulai mencari cara agar perjalanan tersebut juga mampu menghadirkan arus masuk devisa.
Tantangan berikutnya adalah apakah strategi tersebut benar-benar dapat menarik wisatawan dari Timur Tengah dalam jumlah besar dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian Indonesia.
