Berita

Jemaah Lansia Hampir 40 Persen, Tangsel Hadapi Tantangan Kesiapan Fisik

Jemaah Lansia Hampir 40 Persen, Tangsel Hadapi Tantangan Kesiapan Fisik

Menjelang keberangkatan haji, kelengkapan dokumen bukan satu-satunya hal yang harus dipersiapkan calon jemaah. Kondisi fisik, kesiapan mental, hingga kemampuan menghadapi rangkaian ibadah yang menguras tenaga turut menentukan kesiapan seseorang untuk berangkat ke Tanah Suci.

Persiapan tersebut mulai dilakukan jauh sebelum musim haji 2027. Di Tangerang Selatan, pemeriksaan kesehatan dan pembinaan kebugaran calon jemaah telah berjalan sejak beberapa bulan terakhir, dengan perhatian khusus terhadap kelompok lanjut usia (lansia).

Kepala Subbagian Tata Usaha Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Tangerang Selatan, Irfansjah, menyebut koordinasi lintas instansi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan pelayanan haji 1448 H/2027 M.

Salah satu bentuk koordinasi tersebut terlihat dalam kegiatan tes kebugaran di kawasan Tandon Ciater pada 11 Oktober 2026. Kegiatan tersebut diikuti 500 calon jemaah haji dan melibatkan Kemenhaj Tangsel, Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Soekarno-Hatta, serta Satgas Istitaah Kesehatan.

Pemeriksaan kesehatan sendiri telah dimulai sejak Agustus 2026. Calon jemaah dengan faktor risiko kesehatan diarahkan untuk memperoleh pemantauan dan pendampingan lebih awal melalui puskesmas sebelum memasuki tahapan penetapan istitaah kesehatan.

Kesiapan kesehatan berkaitan dengan persyaratan keberangkatan

Kesiapan fisik bukan sekadar persoalan kenyamanan selama beribadah. Penetapan istitaah kesehatan menjadi salah satu persyaratan penting dalam proses pelunasan biaya haji.

Karena itu, pemeriksaan sejak dini memiliki fungsi ganda: membantu calon jemaah mempersiapkan kondisi tubuh sekaligus mengidentifikasi kebutuhan pendampingan kesehatan sebelum keberangkatan.

Perhatian khusus juga diberikan kepada jemaah lansia. Operator Siskohat dan Pelayanan Operasional Kemenhaj Tangsel, Rani Martiani, mengungkapkan bahwa proporsi jemaah lansia yang dipersiapkan untuk keberangkatan mencapai hampir 40 persen.

Kondisi tersebut menjadi pertimbangan dalam memperkuat pemantauan kesehatan, melibatkan keluarga, serta meningkatkan pembinaan melalui kelompok bimbingan ibadah haji.

Verifikasi dokumen berjalan bersamaan

Di luar pemeriksaan kesehatan, persiapan administrasi telah dimulai sejak Juli 2026. Proses verifikasi mencakup kepemilikan paspor, bukti setoran awal, serta konfirmasi kesiapan calon jemaah untuk berangkat, menunda, atau membatalkan keberangkatan.

Kemenhaj Tangsel juga berkoordinasi dengan pihak perbankan untuk menyelaraskan data istitaah kesehatan dengan layanan pelunasan biaya haji.

Meski demikian, kesiapan pelayanan masih menghadapi tantangan. Rani Martiani mengungkapkan bahwa jumlah pegawai Kemenhaj Tangsel belum memenuhi kebutuhan ideal. Optimalisasi kerja sama dan pembagian tugas antarpersonel terus dilakukan untuk menjaga kelancaran pelayanan.

Bagi calon jemaah, rangkaian persiapan tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapan berangkat haji tidak berhenti pada pemenuhan persyaratan administratif.

Rani mengimbau calon jemaah mulai menjaga kebugaran melalui olahraga dan mempersiapkan mental untuk menghadapi berbagai situasi selama berada di Tanah Suci.

“Jaga kesehatan, latih dari sekarang untuk olahraga. Karena memang fisik itu lebih banyak. Yang kedua adalah mental,” pesan Rani.

Persiapan sejak dini menjadi bagian penting agar calon jemaah tidak hanya memenuhi persyaratan keberangkatan, tetapi juga memiliki kesiapan yang memadai untuk menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji.

Sumber: Kemenhaj RI

Bagikan